SYEKH SITI JENAR
pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499) Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda. Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali.
pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499) Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda. Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali.
Siti
Jenar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan,
yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak
kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi
dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah
(ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau
memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh,
ada yang mengatakan bunuh diri). Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi
karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit
non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara
salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging
dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang
memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana
Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang
beragama Islam. Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau
Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan
Sidi Jinnar.
Menurut
Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali
Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi
pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor
ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan
ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama
Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali. Dalam naskah yang tersimpan
di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang
semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di
atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen
Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar
yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti
Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya
belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan
Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk
mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya
Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad
beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan
agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena
alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di
Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris
Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di
Anggaraksa/Graksan/Cirebon. Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging
(Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang
bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun
(saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499)
yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging
wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah
Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya,
di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja
menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra
dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan
Hadiwijoyo Pajang I.
Keberadaan
Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang
mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak
sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari
kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar. Konsepsi Ketuhanan, Jiwa,
Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam
buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang
dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki
Ageng Pengging, yaitu kira-kira:
1.Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai
dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang
dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat,
tidak ada asal-usul serta tujuannya.
2.Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi
yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi,
kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada
yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya
dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan,
menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh
diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud
dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya.
3.Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang
luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai
ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana,
tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang
lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah
ungkapan dari kehendak dzat Allah.
4.Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak
dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah
kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang
Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia.
5.Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki
kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan
manfaat pancaindera.
6.Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk
akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi
kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan
suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya.
7.Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh
manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala
penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru.
Dalam
buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa : Tuhan itu adalah
wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti
bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan
warna memancar yang sangat indah; Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum
terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia
juga mengaku sebagai Tuhan; Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di
dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya,
yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak
bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang
Widi; Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan
(buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk,
sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di
dunia; Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari
belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari
dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah
wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.
Dalam
buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa : Saat
diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar
Prabu Satmata; Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat
mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah
sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak
berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan
sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara)
yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa
dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan
kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan; Tuhan itu menurutnya
adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata
melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.
Menurut
buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935)
dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka,
bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng
bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang
dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan
salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan
(ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling
membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian. Siti Jenar yang
berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang
alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari
jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah
bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ
tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia,
menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang
selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Siti Jenar
memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia
bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya
pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap
obyek (proses intuitif).
Menurut
Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan
pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan
hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di
kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan
tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika
sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang
lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga
yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai
bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).
Dalam
pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya
manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala
sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini
dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan
secitra Tuhan/Hyang Widi. Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa
bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali
yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam),
tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di
tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang
para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).
Dengan
sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama
Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang
dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki
Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan
Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar). Bisa jadi pula, tragedi Siti
Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak
yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu
sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti
akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran.
Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan
di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti
Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa
ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari
budaya Jawa.
Sebab
Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut
Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman
pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan
dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan
memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri. Dikatakan bahwa
dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat
dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini
adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu
atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya
Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting
baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara
konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman,
tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti,
yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita
sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini. Kalau misalnya dengan
kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau
pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak
ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau
korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela.
Kisah
Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran,
yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci. Kesimpulannya,
Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang
dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada
ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya. Kita akhiri kisah
singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat
berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang
lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar
sendiri”. Sidang para Wali Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam
musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh
Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini
bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan
menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan
meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang
santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke
masjid. Ketika mereka tiba, mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam
gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para
wali lainnya. Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh
ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu,
ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali
kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta
datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari
gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar
memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia
diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali
tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan
wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan
tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH,
manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu
benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan
mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah
ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari
percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi
masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat
luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada
masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang
yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar
hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa
pada akhir abad ke 15 M.
Percakapan
Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan
Tan Koen Swie sbb:
Pedah punapa mbibingung, Ngangelaken
ulah ngelmi, NJeng Sunan Giri ngandika, Bener kang kaya sireki, Nanging luwih
kaluputan, Wong wadheh ambuka wadi. Telenge bae pinulung, Pulunge tanpa ling
aling, Kurang waskitha ing cipta, Lunturing ngelmu sajati, Sayekti kanthi
nugraha, Tan saben wong anampani.
Artinya:
Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa
kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata,
benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar, karena berani membuka
ilmu rahasia secara tidak semestinya. Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa
ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan
kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja
kepada setiap orang.
Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya
pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane Mili banyu sumili Arerewang
dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani . . . Wonten malih kacarios
lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun
murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing
makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti
Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah. Sarêng jaja sampun tinuweg
ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira,
nalutuh awarni seta. Amesat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana
swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita. Kinanti Wau kang murweng
don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning
pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti. Nora saking anon
ngrungu, riringa renget siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi,
yeka pangageme raga, suminggah ing sangga runggi. Marmane sarak siningkur,
kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku
panganggone donya, têkeng pati nguciwani. Sajati-jatining ngelmu, lungguhe
cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu
jatmika, neng kaanan ênêng êning.
sumber: http://mahabbahdalamilmutasawuf.blogspot.com/2013/08/syekh-siti-jenar.html
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete